Pagi hari.
Robot-robot keluar
Meninggalkan kamar-kamar kos.
Meninggalkan rumah-rumah.
Di kaki tebing-tebing kaca.
Di hamparan padang beton.
Robot-robot berjalan bergegas sambil mata menatap lurus ke depan.
Robot-robot berbaris menunggu jemputan.
Jemputan datang, robot-robot masuk berdesakan.
Dalam jemputan robot-robot masih berdesakan.
Robot-robot sadar mode.
Pakaian kerja model terkini.
Tapi mata masih menatap lurus ke depan.
Robot-robot keluar jemputan.
Masih berdesakan.
Akhirnya robot-robot pun masuk ke pabrik-pabrik.
Lalu sepi lagi.
Dan saya ingin jadi robot.
Thursday, January 31, 2008
Thursday, January 24, 2008
Monyet dan Kacang
Saya adalah salah satu anggota milis IMG 2002. Hari ini, salah satu anggota milis yang lain - yang biasa kita anak-anak IMG panggil Depe - mengirimkan email yang sangat menarik isinya. Menarik karena makna yang dikandungnya. Berikut isi email tersebut:
-------------------------------------
Dearest Teman2,
Saya pernah membaca artikel menarik tentang teknik berburu monyet di
hutan-hutan Afrika, caranya begitu unik.
Sebab, teknik itu memungkinkan si pemburu menangkap monyet dalam keadaan
hidup-hidup tanpa cedera sedikitpun.
Maklum, ordernya memang begitu.
Sebab, monyet-monyet itu akan digunakan sebagai hewan percobaan atau
binatang sirkus di Amerika.
Cara menangkapnya sederhana saja.
Sang pemburu hanya menggunakan toples berleher panjang dan sempit.
Toples itu diisi kacang yang telah diberi aroma.
Tujuannya,agar mengundang monyet-monyet datang.
Setelah diisi kacang, toples-toples itu ditanam dalam tanah dengan
menyisakan mulut toples dibiarkan tanpa tutup.
Para pemburu melakukannya di sore hari.
Besoknya, mereka tingal meringkus monyet-monyet yang tangannya terjebak di
dalam botol tak bisa dikeluarkan.
Kok, bisa?
Tentu kita sudah tahu jawabnya.
Monyet-monyet itu tertarik pada aroma yang keluar dari setiap toples.
Mereka mengamati lalu memasukkan tangan untuk mengambil kacang-kacang yang
ada di dalam.
Tapi karena menggenggam kacang,
monyet-monyet itu tidak bisa menarik keluar tangannya.
Selama mempertahankan kacang-kacang itu, selama itu pula mereka terjebak.
Toples itu terlalu berat untuk diangkat.
Jadi, monyet-monyet itu tidak akan dapat pergi ke mana-mana !
Mungkin kita akan tertawa melihat tingkah bodoh monyet-monyet itu.
Tapi, tanpa sadar sebenamya kita mungkin sedang menertawakan diri sendiri.
Ya, kadang kita bersikap seperti monyet-monyet itu.
Kita mengenggam erat setiap permasalahan yang kita miliki layaknya monyet
mengenggam kacang.
Kita sering mendendam, tak mudah memberi maaf, tak mudah melepaskan maaf..
Mulut mungkin berkata ikhlas,
tapi bara amarah masih ada di dalam dada.
Kita tak pernah bisa melepasnya.
Bahkan, kita bertindak begitu bodoh,
membawa "toples-toples" itu ke mana pun kita pergi.
Dengan beban berat itu, kita berusaha untuk terus berjalan.
Tanpa sadar, kita sebenamya sedang terperangkap penyakit hati yang akut.
Teman,
sebenarnya monyet-monyet itu bisa selamat jika mau membuka genggaman
tangannya.
Dan, kita pun akan selamat dari penyakit hati jika sebelum tidur kita mau
melepas semua "rasa tidak enak" terhadap siapapun yang berinteraksi dengan
kita.
Dengan begitu kita akan mendapati hari esok begitu cerah dan menghadapinya
dengan senyum.
Dan, kita pun tahu surga itu hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang
hatinya
betul-betul bersih...
Jadi, kenapa tetap kita genggam juga perasan tidak enak itu?
-------------------------------------
Menarik bukan? Dan tentu saja maknanya yang dalam itu. Makasih Pe..
-------------------------------------
Dearest Teman2,
Saya pernah membaca artikel menarik tentang teknik berburu monyet di
hutan-hutan Afrika, caranya begitu unik.
Sebab, teknik itu memungkinkan si pemburu menangkap monyet dalam keadaan
hidup-hidup tanpa cedera sedikitpun.
Maklum, ordernya memang begitu.
Sebab, monyet-monyet itu akan digunakan sebagai hewan percobaan atau
binatang sirkus di Amerika.
Cara menangkapnya sederhana saja.
Sang pemburu hanya menggunakan toples berleher panjang dan sempit.
Toples itu diisi kacang yang telah diberi aroma.
Tujuannya,agar mengundang monyet-monyet datang.
Setelah diisi kacang, toples-toples itu ditanam dalam tanah dengan
menyisakan mulut toples dibiarkan tanpa tutup.
Para pemburu melakukannya di sore hari.
Besoknya, mereka tingal meringkus monyet-monyet yang tangannya terjebak di
dalam botol tak bisa dikeluarkan.
Kok, bisa?
Tentu kita sudah tahu jawabnya.
Monyet-monyet itu tertarik pada aroma yang keluar dari setiap toples.
Mereka mengamati lalu memasukkan tangan untuk mengambil kacang-kacang yang
ada di dalam.
Tapi karena menggenggam kacang,
monyet-monyet itu tidak bisa menarik keluar tangannya.
Selama mempertahankan kacang-kacang itu, selama itu pula mereka terjebak.
Toples itu terlalu berat untuk diangkat.
Jadi, monyet-monyet itu tidak akan dapat pergi ke mana-mana !
Mungkin kita akan tertawa melihat tingkah bodoh monyet-monyet itu.
Tapi, tanpa sadar sebenamya kita mungkin sedang menertawakan diri sendiri.
Ya, kadang kita bersikap seperti monyet-monyet itu.
Kita mengenggam erat setiap permasalahan yang kita miliki layaknya monyet
mengenggam kacang.
Kita sering mendendam, tak mudah memberi maaf, tak mudah melepaskan maaf..
Mulut mungkin berkata ikhlas,
tapi bara amarah masih ada di dalam dada.
Kita tak pernah bisa melepasnya.
Bahkan, kita bertindak begitu bodoh,
membawa "toples-toples" itu ke mana pun kita pergi.
Dengan beban berat itu, kita berusaha untuk terus berjalan.
Tanpa sadar, kita sebenamya sedang terperangkap penyakit hati yang akut.
Teman,
sebenarnya monyet-monyet itu bisa selamat jika mau membuka genggaman
tangannya.
Dan, kita pun akan selamat dari penyakit hati jika sebelum tidur kita mau
melepas semua "rasa tidak enak" terhadap siapapun yang berinteraksi dengan
kita.
Dengan begitu kita akan mendapati hari esok begitu cerah dan menghadapinya
dengan senyum.
Dan, kita pun tahu surga itu hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang
hatinya
betul-betul bersih...
Jadi, kenapa tetap kita genggam juga perasan tidak enak itu?
-------------------------------------
Menarik bukan? Dan tentu saja maknanya yang dalam itu. Makasih Pe..
Wednesday, January 23, 2008
Diatas Bumi Kita Berpijak
Sesuatu baru saja terjadi pada saya. Kemaren malam tepatnya. Saya rasa tidak perlu diceritakan secara detail disini tentang kejadian yang saya maksud. Yang penting adalah bagaimana saya menyikapinya. Dari kondisi saya selama ini, harusnya respons saya sangatlah negatif. Sewajarnya saya langsung down dan frustasi, mengingat hal ini sangatlah sensitif bagi saya. Saya harusnya mengalami kehilangan besar. Tapi entah kenapa respon saya malah datar-datar saja. Sepertinya Tuhan menganugerahi kesabaran kepada saya. Syukurlah dan semoga kesabaran ini selalu dijaga dalam diri saya.
Beberapa saat yang lalu saya mendengar lagu Padi dengan judul Diatas Bumi Kita Berpijak. Mengingatkan saya akan kejadian tadi malam. Akhirnya saya memutuskan untuk menulis postingan dengan judul yang sama.
Beberapa saat yang lalu saya mendengar lagu Padi dengan judul Diatas Bumi Kita Berpijak. Mengingatkan saya akan kejadian tadi malam. Akhirnya saya memutuskan untuk menulis postingan dengan judul yang sama.
Diatas Bumi Kita Berpijak
Bersyukurlah… bahwa kita masih saling mendengarkan dan berkata
Bersyukurlah bahwa, kita masih memijakkan kaki di atas bumi menghirup nafas alamNya
Memandang ke atas langit...takjubkan hati
Merendahkan jiwa ini...dan terilhami
Seperti (teduh) sepasang mata malaikat yang turut menangisi isi bumi
Tak ubahnya desir angin yang menerpa (menerjang)
Kekosongan dan kesunyian hati
Bersyukurlah bahwa kita masih saling mendengarkan
dan mendo'akan
-Padi-
Merendahkan jiwa ini...dan terilhami
Seperti (teduh) sepasang mata malaikat yang turut menangisi isi bumi
Tak ubahnya desir angin yang menerpa (menerjang)
Kekosongan dan kesunyian hati
Bersyukurlah bahwa kita masih saling mendengarkan
dan mendo'akan
-Padi-
Saturday, January 19, 2008
Doa Nabi Sulaeman AS.
Saya mengetahui doa ini dari khutbah Jumat yang saya ikuti di mesjid dekat kosan tanggal 18 Januari kemaren. Dalam khutbah, khatib menyebutkan bahwa hanya ada satu nabi yang melafalkan doa ini, yaitu Nabi Sulaeman AS. Menurut saya doanya cukup bagus.
Jadi, pada suatu hari Nabi Sulaeman AS. dan para tentaranya yang terdiri dari bangsa jin, manusia dan burung sedang berjalan melintasi sebuah lembah yang dihuni sekelompok semut. Lalu berkatalah seekor semut, "Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari." Kelanjutan ceritanya dipaparkan dalam QS. An Naml ayat 19 berikut:


Artinya:
Maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdo'a: "Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri ni'mat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh".
Referensi: http://www.dudung.net/index.php?action=detail&bahasa=indonesia&no_surat=27&awal=10
Jadi, pada suatu hari Nabi Sulaeman AS. dan para tentaranya yang terdiri dari bangsa jin, manusia dan burung sedang berjalan melintasi sebuah lembah yang dihuni sekelompok semut. Lalu berkatalah seekor semut, "Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari." Kelanjutan ceritanya dipaparkan dalam QS. An Naml ayat 19 berikut:


Artinya:
Maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdo'a: "Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri ni'mat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh".
Referensi: http://www.dudung.net/index.php?action=detail&bahasa=indonesia&no_surat=27&awal=10
Sunday, January 13, 2008
Just Married
Saya telah menikah.
Tidak ada pesta-pesta, sederhana saja.
Saya telah memperistri masa lalu saya.
Saya begitu terikat dengannya.
Walaupun dia membuat saya menangis, tapi saya tidak bisa melepaskannya.
Saya mau, tapi saya tidak bisa.
Pernah saya berlari jauh darinya.
Tapi sesudahnya saya temukan lagi saya di dalam pelukannya.
Pelukan penuh duri.
Saya bisa menceraikannya.
Asal ada dia penggantinya, yang akan langsung saya nikahi.
Dialah masa depan saya.
Tapi masa depan tidak akan ada tanpa masa lalu.
Tidak ada pesta-pesta, sederhana saja.
Saya telah memperistri masa lalu saya.
Saya begitu terikat dengannya.
Walaupun dia membuat saya menangis, tapi saya tidak bisa melepaskannya.
Saya mau, tapi saya tidak bisa.
Pernah saya berlari jauh darinya.
Tapi sesudahnya saya temukan lagi saya di dalam pelukannya.
Pelukan penuh duri.
Saya bisa menceraikannya.
Asal ada dia penggantinya, yang akan langsung saya nikahi.
Dialah masa depan saya.
Tapi masa depan tidak akan ada tanpa masa lalu.
Friday, January 11, 2008
Death Sentence
till my body is dust
till my soul is no more
i will love you
love you
till the sun starts to cry
and the moon turns to rust
i will love you
love you
but i need to know
will you stay for all time forever and a day?
then i'll give my heart
till the end of our time
forever and a day
till my soul is no more
i will love you
love you
till the sun starts to cry
and the moon turns to rust
i will love you
love you
but i need to know
will you stay for all time forever and a day?
then i'll give my heart
till the end of our time
forever and a day
Thursday, January 10, 2008
Sekuel
Sebenarnya saya berniat untuk meneruskan penulisan tentang metode Monte Carlo seperti yang telah saya tulis pada postingan saya sebelumnya. Selain karena tujuan saya menulis postingan itu sepertinya belum terpuaskan, sebenarnya saya sedikit "menyesal" karena menulis sesuatu yang saya sendiri tidak tahu apakah saya punya kompetensi untuk melakukannya atau tidak. Tidak mau dianggap sok tahu. Jadi menulis sekuelnya yang lebih "beririsan" dengan saya mungkin akan sedikit menghapus perasaan tersebut. Dan tidak, saya tidak akan menghapus postingan sebelumnya.
Sebenarnya niat menulis lebih lanjut ini sudah saya laksanakan. Tapi apa daya, tiba-tiba kemalasan menghinggapi saya saat menulis, sehingga tulisan tersebut sampai saat ini masih terkubur dengan sukses dalam bentuk draft dalam daftar postingan saya. Tapi saya berjanji untuk meneruskan penulisan tulisan tersebut.
Kemarin saya mendapat sedikit "pekerjaan" untuk dilakukan beberapa waktu ke depan. Bukan yang besar, apalagi kontribusi finansialnya untuk saya nanti, tapi paling tidak dapat mengisi kekosongan yang saya alami belakangan ini. Lagipula saya yakin saya akan mendapatkan pelajaran berharga dari pekerjaan ini nanti.
Pekerjaan ini merupakan jenis yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. Walaupun masih dalam bidang yang (ingin) saya tekuni, namun kenyataan bahwa saya harus memposisikan diri sebagai "penyedia" bukan "pengguna" sedikit memberi tambahan beban bagi saya. Atau mungkin saja saya terlalu manja. Mudah-mudahan tidak. Semoga saya dapat memberikan yang terbaik. Semoga saya mendapat banyak pelajaran.
Sebenarnya niat menulis lebih lanjut ini sudah saya laksanakan. Tapi apa daya, tiba-tiba kemalasan menghinggapi saya saat menulis, sehingga tulisan tersebut sampai saat ini masih terkubur dengan sukses dalam bentuk draft dalam daftar postingan saya. Tapi saya berjanji untuk meneruskan penulisan tulisan tersebut.
Kemarin saya mendapat sedikit "pekerjaan" untuk dilakukan beberapa waktu ke depan. Bukan yang besar, apalagi kontribusi finansialnya untuk saya nanti, tapi paling tidak dapat mengisi kekosongan yang saya alami belakangan ini. Lagipula saya yakin saya akan mendapatkan pelajaran berharga dari pekerjaan ini nanti.
Pekerjaan ini merupakan jenis yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. Walaupun masih dalam bidang yang (ingin) saya tekuni, namun kenyataan bahwa saya harus memposisikan diri sebagai "penyedia" bukan "pengguna" sedikit memberi tambahan beban bagi saya. Atau mungkin saja saya terlalu manja. Mudah-mudahan tidak. Semoga saya dapat memberikan yang terbaik. Semoga saya mendapat banyak pelajaran.
Subscribe to:
Posts (Atom)
